Pages

Sabtu, 08 Desember 2012

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENELITIAN SEJARAH LISAN




Sebagaimana telah dikemukakan, sejarah lisan adalah pencarian sumber-sumber yang berdasarkan pada sumber lisan atau disebut dengan oral history. Metode sejarah lisan sesungguhnya sudah lama digunakan. Orang yang pertama kali menggunakan metode ini adalah Herodotus sejarawan Yunani yang pertama. Dia mengembara ke tempat-tempat yang jauh untuk mengumpulkan bahan-bahan sejarah lisan. Selain Herodotus, terdapat pula orang Yunani, yaitu Thucydides. Untuk mengetahui sejarah perang Poloponesa, dia mencari kisah kesaksian langsung para prajurit yang ikut dalam perang.
Penggunaaan sejarah lisan di Indonesia, sebenarnya juga sudah lama dilakukan. Hal ini dapat dilihat dalam historiografi tradisional. Ciri adanya penggunaan sejarah lisan yaitu adanya kalimat seperti “Kata Sahibul Hikayat”, atau “Menurut yang empunya cerita”, dan sebagainya. Kalimat tersebut mengandung arti bahwa penulis historiografi tradisional mengumpulkan sumber-sumber melalui sumber lisan.
Sejarah lisan menjadi suatu metode mengalami perkembangan. Metode ini kembali dilihat oleh para ahli terutama di Amerika Serikat pada abad ke-20. Penggunaan sejarah lisan mulai diperhatikan kembali oleh para sejarawan karena adanya kekhawatiran orang-orang yang masih hidup dan menyaksikan peristiwa akan meninggal, sedangkan mereka sendiri tidak membuat catatancatatan tertulis. Memori yang dimiliki oleh para saksi peristiwa tersebut merupakan sumber informasi yang berharga. Sejarah lisan dalam pelaksanaannya sebagai suatu metode yang modern dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1930-an. Para ahli pada saat itu menggunakan penelitian dengan metode lisan untuk melihat kenangan bekas para budak hitam. Penelitian yang dilakukan para ahli ini kemudian mengalami perkembangan. Sumber lisan yang dikumpulkan, tidak hanya dari orang-orang besar saja atau para tokoh, tetapi orang-orang kecil pun mereka wawancarai bahkan orang-orang yang buta huruf. Orang-orang ini sangat sulit mewariskan sumber-sumber tertulis.
Hal terpenting dari sejarah lisan adalah untuk mencari informasi-informasi yang luput atau lolos dari sumber tertulis. Banyak pembicaraan yang tidak terekam dalam sumber tertulis. Penemuan-penemuan teknologi memberikan bantuan penting terhadap metode sejarah lisan, misalnya telepon. Barangkali ada kebijakan-kebijakan pemerintah yang berangkat dari pembicaraan-pembicaraan telepon dan tidak tercatat dalam arsip resmi. Pembicaraan-pembicaraan ini, kalau terekam, tentu akan menjadi sumber lisan yang berharga.
Perkembangan teknologi sangat menunjang terhadap perkembangan sejarah lisan. Penemuan teknologi tersebut seperti ditemukannya alat perekam (phonograph) pada tahun 1877. Perkembangan alat perekam pada tahun 1960, dengan ditemukannya tape recorder, semakin memudahkan untuk menyimpan data atau sumber lisan. Ada beberapa hal atau prinsip yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian sejarah lisan, yaitu sebagai berikut.
1.    Perencanaan wawancara
Perencanaan yang baik akan menghasilkan pengumpulan sumber lisan yang sangat baik. Oleh sebab itu, perencanaan wawancara harus benar-benar diperhatikan oleh orang-orang yang akan melaksanakan wawancara lisan. Langkah pertama dalam perencanaan adalah menetapkan orang yang akan kita wawancarai. Agar wawancara itu berjalan dengan lancar sebaiknya sebelum wawancara itu dilaksanakan kita mempelajari latar belakang dari orang tersebut. Selain itu seorang pewancara harus menguasai materi yang akan ditanyakan. Untuk menguasai materi yang akan ditanyakan, sebaiknya pewancara terlebih dahulu membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan materi pembicaraan. Kedua, sebelum kita melakukan wawancara langsung, sebaiknya orang yang akan kita wawancarai dihubungi terlebih dahulu dan mengadakan perjanjian kapan wawancara itu dilakukan. Langkah ketiga ialah menetapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan kita tanyakan. Sebaiknya kita membuat daftar pertanyaan dan pertanyaan yang kita ajukan bukan pertanyaan yang menghendaki jawaban berupa “ya” atau “tidak”. Jadi, yang ditanya hendaknya “Mengapa?”, “Bagaimana?”, “Di mana”. Jenis pertanyaan ini untuk menghindari jawaban “ya”, atau “tidak”. Kalau kita mendapatkan jawaban “ya”, atau “tidak”, maka kita tidak akan mendapatkan sumber yang banyak. Sebaiknya ikhtisar pertanyaan yang akan kita tanyakan dikirim terlebih dahulu kepada informan atau diberikan terlebih dahulu secara lisan. Diharapkan dengan dikirimkannya pertanyaan-pertanyaan kepada informan, maka informan akan mempersiapkan diri dalam memberikan jawaban-jawaban dan memberikan informasi yang lebih banyak. Langkah keempat adalah menyiapkan alat perekam atau tape recorder. Kita harus terampil menggunakan alat perekam, jangan sampai pada saat wawancara dilakukan tape recorder tidak berfungsi. Kita harus menyiapkan berapa kaset yang kita butuhkan. Jumlah kaset yang kita butuhkan tergantung pada lamanya waktu yang kita perlukan pada saat wawancara.
2.    Pelaksanaan wawancara
Dalam melaksanakan wawancara, sebaiknya pewancara mampu menciptakan situasi yang kondusif. Wawancara yang dilakukan bukanlah suatu dialog. Dalam dialog biasanya terjadi interpretasi terhadap fakta, baik yang dilakukan oleh pewancara maupun informan. Hal yang harus diperhatikan dalam wawancara adalah mendapatkan kisah pengalaman dari orang yang sedang diwawancarai. Pewancara berbicara hanya sebatas mengarahkan pertanyaan yang diajukan kepada informan. Jangan sampai pewancara banyak berbicara dan menggurui informan. Dalam rekaman sebaiknya suara yang banyak terekam adalah suara informan, bukan pewancara. Apabila suara informan banyak terekam, maka akan memberikan fakta sejarah yang cukup banyak.
3.    Orang yang diwawancarai
Siapakah orang yang diwawancarai? Orang yang kita wawancarai seharusnya orang yang langsung menyaksikan peristiwa yang kita teliti. Hal ini perlu dilakukan agar informasi yang diberikan lebih akurat. Seberapa banyak orang yang diwawancarai? Hal itu tergantung pada kebutuhan informasi yang kita perlukan, bisa individu maupun kelompok. Kalau kita hanya menulis biografi seorang tokoh, mungkin hanya satu orang, tetapi kalau kita menulis sebuah peristiwa mungkin bisa mewawancari orang yang lebih banyak.
4.    Materi wawancara
Agar materi wawancara yang kita cari sesuai dengan yang kita harapkan, sebaiknya kita menetapkan tema apa yang menjadi penelitian kita. Tema penelitian menjadi pegangan utama dalam menetapkan materi yang akan kita tanyakan kepada informan. Oleh sebab itu, materi harus disesuaikan dengan informan, artinya informan yang kita cari adalah orang yang mengetahui materi yang akan kita tanyakan. Misalnya kita akan menulis sejarah dengan tema kehidupan sosial ekonomi suatu daerah pada masa revolusi, maka kita harus merumuskan dahulu apa yang dimaksud dengan kehidupan sosial ekonomi dalam penelitian itu. Faktor-faktor apakah yang menjadi ciri-ciri sebuah kehidupan sosial ekonomi, misalnya pendidikan, lapangan pekerjaan, pendapatan, kehidupan kegamaan, dan lain-lain. Dengan telah dirumuskannya kehidupan sosial ekonomi, maka faktor-faktor tersebutlah yang akan kita tanyakan kepada informan.




http://budisma.web.id/sejarah-kelas-x/prinsip-prinsip-dasar-penelitian-sejarah-lisan/











PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENELITIAN SEJARAH LISAN
Langkah yang diambil dalam hal ini adalah perlu adanya sumber-sumber yang mendukung yaitu :
1. Sumber Berita dari Pelaku Sejarah
Pada pelaku merupakan unsur utama atau berperan dalam suatu peristiwa, karena mereka mengetahui dengan pasti apa yang terjadi.
2. Sumber dari Saksi Sejarah
Saksi adalah seseorang yang pernah melihat atau menyaksikan terjadinya suatu peristiwa, tetapi bukan sebagai pelaksana atau ikut serta ambil bagian dari dalam peristiwa tersebut.
3. Tempat Peristiwa Sejarah
Didalam penelitian sejarah, masalah tempat terjadinya suatu peristiwa merupakan masalah yang sangat penting. Apabila peristiwa terjadi dalam beberapa dekade terdahulu, barangkali dapat diketahui dengan jelas.
4. Latar Belakang Munculnya Peristiwa Sejarah
Hal ini merupakan unsur terpenting dalam suatu peristiwa sejarah dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya.
Latar belakang mendorong terjadinya suatu peristiwa bukan hal yang muncul secara tiba-tiba, melainkan telah mengalami suatu proses hingga munculnya peristiwa yang dimaksud.










PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENELITIAN SEJARAH LISAN.
Metode sejarah lisan adalah suatu metode pengumpulan data atau bahan guna penulisan sejarah yang dilakukan sejarawan melalui wawancara terhadap para pelaku sejarah yang ingin diteliti. Di Indonesia metode wawancara dalam penulisan sejarah mulai dikembangkan dengan diawali adanya proyek sejarah lisan yang ditangani oleh Badan Arsip Nasional.
Berkembangnya metode wawancara dalam penulisan sejarah di Indonesia dilatarbelakangi oleh sulitnya menemukan jejak masa lampau berupa dokumen yang sezaman serta makin berkembangnya perhatian studi sejarah yangmengarah ke subyek masyarakat berupa orng kecil dalam peristiwa kecil yang biasanya tidak meninggalkan jejak berupa dokumen.
Wawancara adalah kegiatan melakukan tanya jawab dengan narasumber untuk mendapatkan keterangan tertentu. Wawacara merupakan teknik pengumpulan data yang amat penting dalam penelitian survey selain teknik utama berupa Observasi. Oleh karena itu, dalam penelitian survei, teknik wawancara merupakan pembantu utama dari metode Observasi.
Teknik pengumpulan data dengan wawancara terbagi menjadi tiga macam:
1.Poll Type Interview
Wawancara dialkukan dengan cara mengajukan pertanyaan dengan jawabanyang etalah ditentukan, narasumber tinggal memilih jawaban yang ada.
2.Open Type Interview
Wawancara dilakuakn dengan cara pertanyaan ditentukan terlebih dahulu, sedangkan narasumber dapat menjawab bebas.
3.Nonstructured Interview
Wawancara dilakukan dengan cara pertanyaan ataupun jawaban tidak ditentukan sebelumnya.
Teknik wawancara merupakan teknik yang bersifat pelengkap artinya wawancara digunakan untuk melengkapi data atau informasi yang berasal dari sumber dokumen. amun apabila dumber dokumen tidak ada barulah informasi hasil wawancara dapat dianggap sebagai bahan pokok penelitian.
Beberapa persiapan sebelum melakukan wawancara antara lain:
1.seleksi individu untuk diwawancarai
2.pendekatan terhadap orang yang akan diwawancarai
3.mengembangkan suasana lancar dalam wawancara
mempersiapkan pokok masalah yang akan dikemukakan (ditanyakan)
sumber tulisan :
http://hapbiker.wordpress.com/2007/11/27/tahapan-tahapan-dalam-penelitian-sejarah/











.
D. PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENELITIAN SEJARAH LISAN
• Sejarah lisan adalah catatan dan interpretasi kesaksian lisan terhadap peristiwa masa lampau.
• Sejarah lisan dapat digali melalui wawancara, penyalinan dan penyuntingan hasil wawancara secara kritis
• Sejarah lisan dapat digunakan sebagai metode, sumber sejarah dan peluang pengembangan substansi penulisan sejarah





E. Prinsip Dasar Penelitian Sejarah Lisan
Yang dimaksud dengan sumber sejarah lisan adalah para tokoh yang dewasa ini masih hidup. Mereka diharapkan bisa menjadi sumber sejarah. Untuk mendapatkan fakta sejarah, maka seorang peneliti sejarah harus mengadakan wawancara dengan nara sumber tersebut, atau pelaku sejarah atau saksi sejarah. Untuk mengadakan wawancara dengan nara sumber, peneliti harus  lebih dahulu mengadakan perencanaan penelitian yang disebut proposal, yang memuat hal-hal berikut :
  1. Latar belakang, tentang fakta-fakta yang ada dalam masyarakat yang berasal dari Koran atau media massa lainnya.
  2. Rumusan masalah, yang diawali dengan analisis masalah, ruang lingkup masalah, pembatasan masalah, rumusan pertanyaan penelitian.
  3. Telaah pustaka, berisi tinjauan ilmiah.
  4. Tujuan penelitian, menguraikan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian.
  5. Manfaat penelitian, terutama bagi sponsor penelitian untuk meyakinkan bahwa penelitian tersebut sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu.
  6. Metodologi penelitian, diuraikan metode penelitian, instrumen penelitian, sumber data, serta teknik mengolah data dan menganalisis data.
  7. Waktu penelitian, berisi tentang kalender kegiatan secara rinci
  8. Personalia penelitian, dapat dilaksanakan oleh beberapa orang sehingga dibuat tim peneliti. Untuk menyalurkan sponsor, perlu dilengkapi biodata peneliti
  9. Biaya, disesuaikan dengan pelaksanaan penelitian.
  10. Daftar pustaka
  11. Lampiran, berupa riwayat hidup peneliti, instrumen penelitian, dan daftar responden atau pelaku sejarah
Dalam pelaksanaan, pewawancara harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan. Wawancara dalam sejarah lisan bukanlah suatu dialog. Yang diutamakan adalah mendapatkan kisah pengalaman dari orang yang sedang diwawancarai. Komentar dari pewawancara terbatas pada pertanyaan-pertanyaan singkat untuk mengarahkan kisahnya. Yang penting adalah keterangan yang dikisahkannya.
Orang yang dijadikan sumber sejarah haruslah orang yang mengetahui atau mengalami langsung peristiwa yang diteliti. Orang yang diteliti itu bisa individual bisa kelompok. Dan materi yang akan kita tanyakan bergantung pada masalah yang kita bahas. Agar  informasi yang kita butuhkan sesuai dengan tema penelitian maka kita harus mencari orang yang berhubungan langsung dengan tema penelitian.
Metode modern sejarah lisan berkembang di Amerika Serikat pada tahun 1930-an dengan dilakukan penelitian tentang kenangan pengalaman para budak. Perkembangan ini membawa suatu pemikiran baru tentang sumber sejarah lisan. Sumber yang dicari bukan hanya para tokoh besar, tetapi juga kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, termasuk golongan buta huruf dan golongan yang tidak pernah meninggalkan bahan-bahan tertulis.
Perkembangan lain yang menyebabkan lahirnya sejarah lisan adalah bahwa dalam dunia modern banyak hal yang penting lolos dari pencatatan tertulis, misalnya keputusan atau perintah penting yang diberikan melalui telepon sehingga tidak ditemukan data dalam dokumen. Teknik transportasi dan komunikasi yang semakin maju pada waktu sekarang memungkinkan orang saling bertemu muka, sehingga surat menyurat semakin berkurang. Dengan demikian semakin banyak data yang diperlukan tidak lagi dapat ditemukan dalam bentuk tertulis. Selain itu, perkembangan teknologi, dengan ditemukannya alat perekam pada tahun 1877 dan perkembangan alat perekam pada tahun 1960 dengan ditemukannya tape recorder, semakin mempermudah untuk menyimpan data atau sumber lisan.


0 komentar:

Poskan Komentar