Pages

Rabu, 19 September 2012

Cerpen

Tunda, tunda, dan tunda teruss!!
“Teng..teng,…tengg!!”  bel pun berbunyi menandakan sekolah hari ini telah berakhir. Para siswa pun berhamburan keluar untuk segera sampai di rumah, ada juga yang bergegas pergi kursus, ada yang menghampiri satu sama lain, ada juga yang masih ada di sekolah untuk menyempatkan diri salat dzuhur. Itulah SMA negeri 1 sungguminasa, sekolah yang penuh dengan warna – warni kehidupan siswa hingga guru – gurunya. Dia antara siswa yang jumlahnya ribuan itu, ada salah satu siswa yang bernama Agus. “Hari ini, Agus mau kerja kelompok ya bu, jadi pulangnya agak sorean gitu”, kata Agus kepada ibunya di telepon, “iya nak, tapi jangan lupa salat ya, kalo bisa kamu tinggal di sekolah dulu untuk salat terus kamu boleh kerja kelompok ke rumah temanmu” kata ibunya menasehati. “iyalah bu, tapi ini mendadak sekali jadi nanti aku salat di rumah saja ya, mengkodo’ juga tidak apa – apa kan bu?” kata Agus membalikkan perkataan ibunya “kamu itu tidak tahu apakah kamu masih hidup ketika sampai di rumah, jadi kamu harus salat dulu!” seru ibunya sambil mematikan telepon.
Namun Agus tidak mengindahkan perintah ibunya, dia tetap saja langsung pergi ke rumah temannya, dan sampai di rumah temannya pun dia juga tidak salat, hingga akhirnya dia tidak menyadari bahwa waktu dzuhur telah habis. “tinggal diposting kan teman – teman?” kata Agus beranjak pulang, “iya Gus, kamu lanjutkan saja di rumamu ya, bisa kan?” kata teman Agus, “iya, bisa kok”  jawab Agus sambil memakai sepatu untuk menuju pulang.
Sesampainya di rumah, Agus ditanyai oleh ibunya “Gus, kamu tadi sudah salat dzuhur kan?” kata ibunya menahan Agus ketika sampai “belum bu, ini baru aku mau salat terus digabung sama Azhar saja..” kata agus, “tuh kan, ibu bilang apa tadi, seharusnya kamu salat dulu baru kamu pergi, kalau begitu cepat salat sana!!” seru ibunya dan akhirnya Agus pun pergi salat.
Keesokan harinya, ketika pulang sekolah, lagi – lagi Agus tidak langsung pulang, kali ini dia sedang ada rapat dengan organisasinya, dan ibunya berpesan agar dia melaksanakan salat di ruangan kelasnya saja jika tidak bisa di mushola. Akan tetapi pesan ibunya hanya angin lalu baginya, dia tetap saja langsung pergi rapat tanpa mengerjakan salat terlebih dahulu hingga tanpa dia sadari waktu salat dzuhur telah habis. Ketika rapatnya sudah selesai, dia pun menuju pulang, dia  menunggu angkutan umum di depan sekolah. Pada saat dia sudah melihat angkutan umum, Agus bermaksud untuk memberikan simbol agar angkot itu berhenti tapi yang terjadi “brakk” bukannya berhenti, tapi angkot itu justru tidak sengaja menabrak Agus, semua orang yang menyksikan kejadian itu langsung saja menolong Agus dan membawanya ke rumah sakit.
Beruntung, Agus masih bias diselamatkan. “ibu, maafkan Agus yaa, selama ini Agus tidak pernah melaksanakan perintah ibu untuk salat kalau Agus mau pergi” kata Agus lirih “iya nak, ibu mengerti, yang terpenting saat ini adalah kamu sudah sadar bahwa perbuatan kamu itu salah, dan Allah memberikan peringatan kepadamu agar kamu bertobat nak” kata ibunya dengan lembut. Agus dan ibunya pun saling berpelukan dan Agus tidak pernah mengulangi kesalahannya, dia sadar bahwa dengan menunda salat, semua yang dia inginkan tidak dapat terwujud



Mendahului  takdir
“Uhhuk.. uhukk… “ibu  Dina terus saja terbatuk – batuk sepanjang hari ini. Dan seperti biasanya dia meminum obat yang diresepkan dokter untuknya. “assalamualaikum…” ucap anak Ibu Dina, Tono sepulang dari bekerja. “ibu, bagaimana hari ini, adakah perkembangan?” kata Tono kepada ibunya. “tidak tahu nak, hari ini ibu tidak berhenti batuk, sebaiknya kita ganti dokter lagi saja” kata Ibu Dina lirih, “tidak bu, sebaiknya kita coba bertahan dengan dokter yang ini karena kita baru saja ganti dokter” kata Tono tegas. “mungkin saja umur ibu tidak lama lagi, nak” kata Ibu Dina sambil menangis. “Tidak bu, ibu tidak boleh menyerah, mungkin saja kita hanya tinggal menunggu  beberapa waktu lagi untuk pemulihan Ibu” Seru Tono kepada ibunya, “tapi…” belum sempat Ibunya berbicara, handphone milik Tono bordering “tunggu sebentar ya bu, ada telepon dari managerku” kata Tono sambil beranjak dari kamar Ibunya.
                “Assalamualaikum, halo pak, ada apa?” ucap Tono menjawab telepon managernya, “waalaikum salam No, ini ada kabar duka dari kantor, Pak Ardi siang tadi tutup usia karena sakit, jadi kami harapkan kepada seluruh karyawan untuk datang ke pemakaman dekat kediaman pak Ardi pada pukul 4.00 sore, kamu bisa datang kan?” jelas managernya “innalilahi, saya turut berduka cita pak, iya Insya Allah saya akan datang” jawab Tono “baiklah, saya tunggu ya No, kalau begitu sudah dulu ya, assalamualaikum” tutup managernya “waalaikum salam” jawab Tono.
                Tono pun masuk kembali ke dalam rumah dan langsung menghampiri ibunya di dalam kamar, “Siapa yang telepon No?” kata ibunya pada saat Tono masuk “itu bu, managerku telepon, katanya bos ku, pak Ardi siang tadi meninggal dunia dan aku diminta untuk hadir di pemakamannya” jelas Tono kepada ibunya, “innalillahi wainnalillahi roji’un, iya No kamu harus datang sebagai bentuk penghormatan terakhir nak “ kata Ibunya, “iya bu, Insya Allah aku akan datang”. Tono pun pamit kepada ibunya untuk menghadiri pemakaman pak Ardi.
                Pada saat di tempat pemakaman, “ kita semua berharap dan berdoa agar  amal ibadah pak Ardi diterima di sisi Allah SWT” kata managernya “Aamiin “ seru seluruh karyawan. Sebelum beranjak dari tempat pemakaman Tono sempat berbincang dengan si penjaga pemakaman “ pak, saya mau minta tolong, sekarang ibu saya sedang sakit keras, kalau misalnya tidak bias tertolong, saya ingin memakamkan ibu saya di sini “ kata Tono, “iii… iya tuan” kata penjaga kubur tersebut. Tono pun beranjak pergi dan menuju pulang.
                Beberapa hari kemudian Tono tidak pernah lagi datang ke kantor karena tiba – tiba sakit. Sedangkan ibunya sudah berhasil memulihkan kesehatannya sehingga sehat kembali. Namun sejak pertama sakit, hingga beberapa bulan, sakit Tono tidak kunjung menunjukkan adanya tanda – tanda untuk sembuh, hingga akhirnya ia pun tidak bias tertolong. Bukannya ibunya yang akan dia makamkan, tetapi dia lah yang terlebih dahulu dimakamkan oleh ibunya, semuanya karena ia mendahului takdir.
http://nurulatikahms.blogspot.com


0 komentar:

Posting Komentar