Dapat Uang Empati Rp.25 Juta, Syaripudin Pane Batal
Tuntut RS Haji (KASUS 1)
MAKASAR (Pos Kota) – Rencana
Syaripudin Pane, 43, mengadukan sebagai korban malpraktek operasi patah kaki
Rumah Sakit Haji Jakarta (RSHJ), ke pengadilan, batal. Niat tersebut ia
gugurkan setelah manajemen rumah sakit memberinya uang empati sebesar Rp25
juta.
Menurut Syaripudin, keputusan untuk
tidak melanjutkan kasusnya ke jalur hukum bukan karena sejumlah uang yang
diberikan rumah sakit. Karena, katanya, nilai uang yang diberikan itu
sesungguhnya cuma separuh dari jumlah nominal yang ia tuntut sebelumnya, yakni
Rp50 juta. “Saya mengalah untuk kebaikan,” kata Syaripudin, saat jumpa media,
di RSHJ, Kamis (27/10).
Ditambahkannya, membawa kasus ini ke
jalur hukum hanya akan memakan waktu. Dia sadar, menuntut dokter tidaklah
semudah membalikkan telapak tangan. “Kalau dilanjutkan, kasus saya pasti akan
terbantahkan,” kata Syaripudin, yang berdomisili tak jauh dari rumah sakit.
Sebelumnya, Syaripudin berapi-api
mengangkat kasus malpraktek pen bekas yang didapatnya saat operasi patah kaki
itu ke media. Hal itu didasari keterangan dokter Siki Kawiana dari Rumah Sakit
Surya Husada Hospital di Bali, yang ia dapat saat pengangkatan pen tahun lalu.
Ketika itu, katanya, dokter Siki mengatakan pen di kakinya adalah bekas.
Dia juga berniat menuntut dokter
Agus Pujo dan dokter Rizal, yang melakukan operasi pemasangan pen di kakinya
yang patah pada September 2010 lalu. Selang dua pekan, bekas operasinya
memburuk. Dimana dari lokasi sekitar bekas operasi keluar darah dan nanah.
“Namun surat rekomendasi dokter Siki
ke Rumah Sakit Haji justru sebaliknya. Dokter Siki pasti melindungi
sejawatnya,” katanya, beberapa waktu lalu.
Kemarin, ia sendiri telah
menyepakati kasusnya dengan manajemen dan tim dokter selesai. Dia juga berjanji
tidak akan menuntut apa pun di kemudian hari. “Uang empati itu juga bukan untuk
saya, tapi akan diperuntukan buat kerabat saya yang dililit hutang.”Kuasa Hukum
RSHJ, Fauzie Yusuf Hasibuan, mengatakan, persoalan dengan Syaripudin tersebut
hanyalah salah paham. Menurutnya lagi, pemberian uang empati bukan berarti
pihaknya mengaku bersalah. “Faktanya pen bekas itu tidak terjadi. Miskomunikasi
saja,” ujarnya.
|
Warta (KASUS 2)
|
|
LANGKAT - Kasus penyiksaan berkepanjangan yang dilakukan oleh Edy Syahputra (42) terhadap putrinya Ega Priliya, bocah yang baru berusia 8 tahun mendapat simpati sekaligus kecaman dari berbagai kalangan. Kecaman tak hanya diarahkan pada Edy Syahputra selaku ayahnya, tetapi juga muspika Tanjung Pura yang dinilai “lalai” bahkan tidak memiliki empati dan solidaritas sosial. Sebab sampai 2 hari sejak terungkapnya tragedi yang dialami Ega, tidak seorangpun dari kantor Camat Tanjung Pura yang melihat Ega walau hanya sekedar memperlihatkan rasa simpati mereka. “Kita tidak bisa melihat kasus yang dialami Ega hanya dari aspek hukum, sebab faktor kemiskinan kerap menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya tragedi seperti yang dialami oleh Ega Priliya” kata Togar Lubis, Koordinator Kelompok Study dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumut saat dikonfirmasi Waspada Online, via seluler, Senin (10/5). Dari tatanan struktur pemerintahan, Togar menilai bahwa kasus penganiayaan Ega yang berlangsung selama 4 tahun menunjukkan bahwa aparatur pemerintah di kecamatan Tanjung Pura dari mulai tingkat kepala Lingkungan sampai di Kecamatan masih menganut pola pikir ABS (Asal Bapak Senang). Kasus penyiksaan terhadap anak ini, masih ditangani pihak polsek Tanjung Pura.
Ketua Komisi I: Dubes Saudi Harus Empati pada Kasus
TKI (KASUS 3)
Jakarta - Ketua Komisi I DPR (bidang luar negeri) Mahfudz Siddik meminta Dubes Arab Saudi menunjukkan perhatian dan empati terhadap kasus-kasus TKI. Menurutnya, warga Saudi memiliki pengaruh besar atas kekerasan TKI. "Dubes Saudi juga harus tunjukkan perhatian dan empati terhadap kasus-kasus TKI. Karena warga Saudi juga punya banyak andil terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap TKI," ujar Mahfudz dalam pesan singkat, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (24/6/2011). Mahfudz juga meminta Menlu Marty mengklarifikasi atas pernyataannya tentang Dubes Saudi sudah meminta maaf kepada publik. Hal ini agar Menlu tidak dinilai melakukan kebohongan publik. Pemerintah, lanjut Mahfudz, juga terlihat panik atas munculnya kasus Ruyati. "Pemerintah memang terlihat panik karena kasus ini muncul secara tiba-tiba tanpa ada informasi dari pihak-pihak terkait," tutupnya. Kedubes Arab Saudi pada Kamis kemarin menegaskan, tidak pernah mengaku lalai dan meminta maaf soal eksekusi Ruyati. Pihak Kebubes hanya menyatakan akan menyampaikan surat yang dikirimkan Marty kepada Menlu Arab Saudi. Statemen ini menyangkal pernyataan Marty pada 22 Juni yang mengatakan Arab Saudi sudah mengaku lalai dan meminta maaf karena tidak memberitahu soal eksekusi Ruyati. Permohonan maaf Arab Saudi ini juga pernah disampaikan oleh Juru Bicara Kemenlu Michael Tene. Pernyataan Michael itu disampaikan pada Selasa 21 Juni atau sehari setelah pemanggilan pertama Dubes Arab Saudi. Sedangkan Marty menyatakan, pernyataannya adalah berdasar fakta. Hal serupa disampaikan Michael. |
Empati itu Penting, Bijaksana itu Harus! (KASUS 4)
Kali ini menjadi guru
menyenangkan yang paling penting memiliki empati, dan harus bijaksana. Berikut
akan kita ulas mengenai dua hal tersebut.
Empati mempunyai pengertia yang
hampir mirip dengan simpati. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati betul
dalam memahaminya. Menurut Bennet, empati adalah partisipasi emosional dan
intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain.
Apabila kita perhatikan dengan
seksama, empati berbeda dengan simpati. Empati menekankan pada partisipasi
secara emosional dan intelektual pada pengalaman orang lain, sedangkan simpati
menekankan pada penempatan diri secara imajinatif pada posisi orang lain.
Empati dapat diartikan bagaimana
kita membeyangkan pikiran atau perasaan
orang lain menurut persepsi orang yang bersangkutan. Sedangkan simpati adalah
kita menempatkan diri kita seperti orang lain dengan menggunakan persepsi kita.
Dalam empati kita membayangkan perasaan atau pikiran orang lain, tetapi dalam
simpati kita membayangkan apabila kita menjadi orang lain.
Guru empati dapat membayangkan
pikiran dan perasaan siswa menurut persepsi mereka, bukan menurut persepsi
guru. Misalnya, dalam proses pembelajaran, seorang guru empati merancang dan
melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan alam dan pikiran dan perasaan
siswa, bukan sesuai dengan alam pikir dirinya. Hal ini tercermin dalam bahasa
yang digunakan dan cara memperlakukan siswa.
Guru empati berbeda dengan guru
biasa dalam memperlakukan siswa-siswinya.
Perhatikan dua contoh perbedaan
yang mencolok antara guru empati dan guru tidak empati dalam menghadapi siswa.
Contoh 1
Cara Guru Tidak
Empati dalam menyelesaikan persoalan siswa yang terlambat masuk sekolah.
Guru : ”Mengapa kamu datang terlambat?”
Siswa : ”Saya terlambat bangun, Bu.”
Guru : “Ah, alasan kamu! Tidakkah kamu tahu
kalau sekolah dimulai pukul 07.00?”
Siswa : ”Saya tahu, Bu. Tapi kali ini saya
benar-benar terlambat bangun. Saya menyesal
datang terlambat.”
Guru : ”Ya, sudah. Besok tidak boleh terlambat
lagi. Awas kalau terlambat lagi!”
Coba anda amati kalimta-kalimat
yang disampaikan sang guru terhadap siswa dalam ilustrasi tersebut. Kata-kata
yang digunakannya adalah kata-kata yang menyudutkan, menyalahkan, dan
mengundang rasa tidak nyaman. Bahkan, di dalamnya terdapat kalimat yang
mengancam siswa.
Contoh 2
Cara Guru Empati
dalam menyelesaikan persoalan siswa yang terlambat masuk sekolah.
Guru : ”Mengapa kamu datang terlambat, Nak?”
Siswa : ”Saya terlambat bangun, Bu.”
Guru : “Kamu tidur terlampau larut tadi malam?”
Siswa : ”Betul, Bu. Saya nonton pertandingan
sepak bola.”
Guru : ”Kamu sangat menyukai sepak bola?”
Siswa : ”Betul, Bu. Saya pecinta sepak bola.”
Guru : ”Kamu mencintai sepak bola?”
Siswa : ”Ya, Bu.”
Guru : ”Kamu tidak mau kehilangan kesempatan
nonton sepak bola?”
Siswa : Betul, Bu.”
Guru : ”Kamu juga sebetulnya tidak mau
terlambat sekolah?”
Siswa : ”Betul, Bu.”
Guru : ”Kamu dapat mengatur waktumu agar
kecintaanmu terhadap sepak bola tidak
mengganggu sekolahmu?”
Siswa : ”Bisa, Bu. Lain kali saya tidak akan
terlambat ke sekolah, meskipun habis
nonton sepak bola.”
Guru : ”Kamu merasa itu pilihan yang terbaik
untukmu?”
Siswa : ”Ya, Bu.”
(Guru mengangguk,
lalu mempersilakan siswa masuk kelas).
Dari dialog tersebut, tampak
dengan jelas perbedaan sikap guru empati dengan guru tidak empati. Contoh kasus
1 menggambarkan sikap guru tidak empati. Siswa merasa tidak nyaman dngan sikap
guru tersebut. Ia sebetulnya sudah tahu bahwa dirinya tidak mau terlambat ke
sekolah, dan ia menyesal. Akan tetapi, pertanyaan dan ancaman guru semakin
membuat dirinya merasa bersalah yang mendalam. Sikap guru seperti itu dapat
mengundang siswa tidak hormat pada guru, bahkan dapat menimbulkan rasa marah da
dendam siswa kepada guru.
Sebaliknya, pada contoh kaus 2,
guru memesisikan diri pada persepsi dan perasaan siswa yang terlambat sehingga
akhirnya siswa menyadari kekeliruannya dengan penuh kesadaran. Bahkan, ia
menemukan solusinya tanpa harus merasa ditekan atau diancam oleh guru.
Kecintaannya pada sepak bola tidak dicela oleh guru. Akan tetapi, pada kasus
pertama, guru sama sekali tidak menghargai kesukaan siswa pada sepak bola.
Sebagai manusia, para siswa
dapat membedakan guru empati dan guru tidak empati. Guru empati sangat
menyenangkan sehingga bisa dijadikan seaa orang tua dan sahabat. Guru empati
aman untuk dijadikan sebagai tempat curhat. Wajarlah, apabila guru empati
disukai dan disayangi para siswanya.
Di tangan guru
empati, para siswa tunduk dan patuh serta terbu. Oleh karena itu, guru empati
memiliki kekuatan psikologis yang luar biasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada
sementara guru yang berpandangan bahwa sikap empati membuat guru tidak dihargai
siswa. Pendapat ini tentu saja kurang berdasar. Yang menyebabkan guru tidak
dihargai siswa bukan empatinya, melainkan sikapnya yang sering mencela, memaki,
dan tidak menghargai perasaan serta pikiran siswa alias guru otoriter atau guru
yang tidak memegang nilai-nilai dalam menghadapi siswa (tidak proaktif).
Bagi guru pada era globalisasi
seperti sekarang ini, sikap dan perlakuan empati kepada siswa merupakan
tuntutan mutlak untuk mencapai hubungan yang harmonis dan edukatif dengan
siswa. Tanpa sikap ini, pola komunikasi dan hubungan antara siswa dan guru
dalam pendidikan akan terasa dingin dan memiliki jarak psikologis, bahkan
cenderung menegangkan. Akibatnya, proses pendidikan tidak mencapai hasil yang
optimal.
Nah, para guru hebat dimanapun
anda berada, bagaimana?Sudahkah anda bersikap empati kepada siswa-siswi anda?
Ternyata, memiliki empati saja
tidak cukup. Untuk menjadi guru yang menyenangkan satu hal lagi yang harus
dimiliki adalah sikap Bijaksana.
Menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia karangan Poerwadarminta, arti kata bijaksana adalah menggunakan akan
pikiran dan pengalamannya. Ini berarti bahwa orang bijaksana adalah orang yang
senantiasa menggunakan akal dan pikirannya dalam menghadapi atau memutuskan
persoalan. Orang bijaksana tidak emosional dalam menghadapi seuatu. Ia pun
tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Setiap persoalan dihadapinya dengan
akal sehat. Setiap keputusan dipertimbangkan masak-masak didasarkan pada ilmu
pengetahuan yang luas.
Seorang guru dikatakan bijaksana
apabila dalam menghadapi setiap persoalan senantiasa mempertimbangkan dengan
akal sehat dan mendasarkannya pada ilmu pengetahuan. Ia tidak reaktif dan
emosional. Misalnya, apabila ia menghadapi siswa yang melakukan kesalahan, ia
tidak dengan serta-merta menyalahkan, mencela, memaki, dan menghukum siswa.
Dengan tenang dan penuh kesabaran, ia mengumpulkan berbagai bukti secara
objektif. Setelah bukti tersebut ditemuka, ia mempertimbangkan kemanfaatan,
baik bagi siswa yang melakukan kesalahan tersebut maupun bagi kebaikan umum.
Guru bijaksana merancang dan
melaksanakan pembelajaran seuai dengan kemampuan dan keadaan siswa-siswinya. Ia
tidak memaksakan kehendaknya sendiri pada anak-anak. Ia tidak berlebihan dalam
memberikan tugas, tapi disesuaikan dengan kebutuhan dan keperluan siswa.
Secara umum, para siswa menyukai
guru yang bijaksana. Mengapa demikian? Sebab, dari guru bijaksana mereka
mendapatkan pelajaran untuk kehidupannya. Mereka merasa diperlakukan secara
m,anusiawi, tidak semena-mena. Berbeda halnya degan guru yang tidak bijaksana.
Guru tidak bijaksana memperlakukan siswa semaunya, menurut perasaannya. Jika
tidak menyukai siswa tertentu, guru tidak bijaksana akan meindasanya, terutama
secara psikologis.
Guru tidak bijaksana kan
terjerumus ke dalam perbuatan merusakkan mentalitas siswa tanpa disadari. Ia
akan memperlakukan siswa seperti memperlakukan orang dewasa lain yang tidak
disukai. Bahkan ia bisa lupa bahwa tugas dirinya adalah memperbaiki siswa bukan
merusakkannya.
Ada yang berpendapat bahwa
bijaksana berarti melanggar hukum. Pendapat ini tentu saja tidak dapat
dibenarkan. Bijaksana bukan melanggar hukum. Justru bijaksana berarti
melaksanakan hukuk sesuai dengan kebutuhan dan keperluan.
Melihat Kisah Bunuh Diri dengan Empati (KASUS 5)
Deretan anak sekolah yang mengakhiri hidup atau mencoba mengakhiri hidup dengan bunuh diri kian bertambah.Agustus 2004, Haryanto, siswa SDN IV Garut, Jawa Barat, harus mengalami brain damage akibat bunuh diri yang gagal
dilakukan. Sembodo, anak muda Kebumen, Jawa Tengah, menyentak gempita peringatan Hari Anak Nasional 2004
dengan mengakhiri hidupnya. Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2005 mendapat kado meninggalnya Eko Haryanto,
siswa SD Kepunduhan 01 Kramat, Tegal, Jawa Tengah, karena gantung diri. Terakhir, Jumat (15/7/2005) Fifi Kusrini (14),
siswi SMPN 10 Bekasi, mengakhiri hidupnya dengan gantung diri (Kompas, Minggu, 17/7/2005).
Meruaknya kasus-kasus bunuh diri anak sekolah mestinya memancing perhatian lebih intens, bukan sekadar simpati
terhadap rasa sakit keluarga korban. Memang, mungkin kita jauh lebih mudah melihat faktor pencetus, yaitu
ketidakberdayaan ekonomi, sebagai motif dasar keinginan anak-anak itu untuk bunuh diri. Namun, terlalu naif bila sayatan
di ”kening” pendidikan nasional ini disandarkan melulu pada ketidakmampuan orangtua memenuhi aneka kewajiban
material pada pelaksanaan proses belajar-mengajar di sekolah.
Ketidakcerdasan emosi
Meski anak-anak muda yang bunuh diri itu memiliki alasan, sebenarnya mereka lebih didorong perasaan tidak mampu
menanggung beban sosio-emosional yang kadang tidak sepenuhnya mereka mengerti.
Meski pemicunya ketidakmampuan finansial orangtua, bagi anak, tekanan itu jauh lebih menyakitkan. Fifi, misalnya,
mungkin tidak sepenuhnya memahami mengapa ia dilahirkan sebagai anak tukang bubur yang membuatnya harus
menerima ejekan teman-teman atas status itu. Dia telah memutuskan untuk mengakhiri ”derita”-nya. Kasus- kasus
sebelumnya juga menunjukkan ada ketidakmampuan sosio-emosional dari anak-anak untuk mengelola tekanan yang
mereka terima.
Dengan orientasi kapitalis, lingkungan sosial cenderung membentuk anak-anak dengan menghadapkan pada aneka
pembelajaran instan, mengarah pada kekerasan dan pemaksaan sebagai cara yang dipandang efektif dalam
memecahkan masalah.
Karena itu, memilih melakukan apa saja untuk mencapai tujuan menjadi sedemikian lazim. Proses, sebagai bagian
paling penting dalam pembelajaran, ternafikan. Lalu terbentuk generasi instan yang mudah puas, mudah cemas, mudah
bertindak agresif, dan kurang menghargai toleransi, perdamaian, dan nilai-nilai hidup orang lain. Akibatnya, ketika
ketidakberhasilan dan ketidakcocokan muncul, serta ketidakberdayaan dirasakan, jalan pintaslah yang dipilih.
Sebenarnya, kian banyak anak yang mengalami aneka kesulitan yang mengarah pada ketidakcerdasan emosional dalam
menyikapi masalah. Sistem pendidikan dan pembelajaran di negeri ini secara tidak langsung ikut andil membentuk
ketidakcerdasan emosi pada anak-anak itu. Ada banyak kritik terhadap sistem pendidikan kita yang lebih mengedepankan
kemampuan dan kecerdasan intelektual, dan tidak meletakkan secara proporsional pengembangan aspek spiritual dan
sosio-emosional.
Fungsi sosio-emosional empati
Pengembangan empati menjadi amat relevan guna membangun aspek-aspek manusiawi individu itu. Empati membantu
anak mengetahui dan memahami emosi orang lain dan berbagi perasaan dengan orang lain.
Dengan empati, anak dituntut untuk mengubah pola pikir yang rigid menjadi fleksibel, pola pikir yang egois menjadi
toleran. Anak juga menjadi mengerti, tidak semua keinginannya terhadap orang lain dapat terpenuhi, dan memiliki inisiatif
membantu orang lain yang berada dalam kesulitan.
Kemampuan anak untuk membayangkan perasaan seseorang dan berpikir dalam keseluruhan sikap mental emosional
orang lain menjadi dasar pengembangan empati. Anak memerlukan kesadaran diri, keterbukaan pada emosi diri, dan
keterampilan membaca perasaan sehingga dapat melihat dirinya pada peran yang dimainkan orang lain. Dengan
kemampuan itu, anak memahami, mengenali, dan memberi nama (label) secara tepat terhadap emosi-emosi yang
dirasakan. Dengan demikian, tak ada kebingungan pada anak dalam mendefinisikan apa yang sedang bergolak dalam
perasaannya dan kesalahan penggunaan coping behaviour tak akan terjadi.
Perspective taking yang dilakukan anak akan memperlihatkan bagaimana dia memandang aneka kejadian sehari-hari
dari sudut pandang orang lain sehingga membuatnya mampu mengantisipasi perilaku dan reaksi orang lain. Emphatic
concern akan terbentuk dan mengasah kemampuan anak untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain.
Daniel Goleman, dalam buku Emotional Intelligence, mengemukakan, empati memungkinkan seseorang untuk
menghayati masalah atau kebutuhan yang tersirat di balik perasaan orang lain, yang tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata.
Melalui empati, anak tidak hanya keluar diri dalam usaha memahami orang lain, tetapi juga melakukan pemahaman
internal terhadap self.
Pertama, kesadaran bahwa tiap orang memiliki sudut pandang berbeda akan mendorong anak mampu menyesuaikan
diri sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan menggunakan mobilitas pikirannya, anak dapat menempatkan diri pada
posisi perannya sendiri maupun peran orang lain sehingga akan membantu melakukan komunikasi efektif.
Kedua, mampu berempati mendorong anak melakukan tindak altruistis, yang tidak hanya mengurangi atau
menghilangkan penderitaan orang lain, tetapi juga ketidaknyamanan perasaan anak melihat penderitaan orang lain.
Merasakan apa yang dirasakan individu lain akan menghambat kecenderungan perilaku agresif terhadap individu itu.
Ketiga, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain membuat anak menyadari bahwa orang lain dapat membuat
penilaian berdasarkan perilakunya. Kemampuan ini membuat individu lebih melihat ke dalam diri dan lebih menyadari
serta memerhatikan pendapat orang lain mengenai dirinya. Proses itu akan membentuk kesadaran diri yang baik,
dimanifestasikan dalam sifat optimistis, fleksibel, dan emosi yang matang. Jadi, konsep diri yang kuat, melalui proses
perbandingan sosial yang terjadi dari pengamatan dan pembandingan diri dengan orang lain, akan berkembang dengan
baik.
Kemampuan mengambil perspektif orang lain merupakan kunci untuk menciptakan hubungan sosial yang hangat.
Hubungan sosial yang berkualitas inilah yang memungkinkan anak dapat mengekspresikan perasaannya secara terbuka
dengan mengembangkan emosinya dengan sehat. Identitas dan harga diri akan berkembang mantap, dan meminjam
istilah Sigmund Freud, anak akan cenderung menghambat thanatos (insting kematian) yang dimiliki dengan penghargaan
lebih tinggi terhadap eros (insting kehidupan).
1 komentar:
keren, mampir juga ke blog saya ya :)
Posting Komentar