Biola untuk Reva
OLEH RADIANI
Pagi kembali menyambut, saat mentari
masih bersembunyi malu di balik bukit tampak seorang gadis berambut panjang
duduk di atas hijaunya padang rumput. Nama gadis itu adalah Reva , seorang
gadis dengan seribu pesona yang ada padanya. Selain cantik Reva memiliki
prestasi yang sangat membanggakan di sekolahnya. Dan satu hal lagi, Reva
mempunyai suatu kegemaran yaitu memainkan biola. Di tengah segar udara pagi
Reva dengan lembut memainkan biola di tangannya. Maka terdengarlah alunan merdu
mengiringi kicau burung yang terbang dengan riangnya menyambut hari. Di saat
Reva sedang asyik dengan biolanya, tiba-tiba terdengar seorang lelaki memanggil
namanya dari dalam rumah.
“Reva, dimana
kamu?” teriak ayah Reva dari dalam rumah.
Mendengar
panggilan itu Reva langsung menghentikan permainan biolanya dan
menyembunyikannya di balik semak. Setelah menyembunyikan biola kesayangannya
itu ia langsung berlari menuju rumah.
“Ya Ayah !
Reva disini,“ jawab Reva dengan nafas terengah – engah.
“Dari mana
saja kamu, bukankah kau seharusnya sudah harus bersiap untuk ke sekolah?” tanya
ayah Reva dengan tegas.
“Reva habis
dari …………” belum sempat melanjutkan kalimatnya ayah Reva sudah memotongnya.
“Bermain
dengan benda tak berguna itu lagi? “ bentak ayahnya membuat Reva hanya
menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata.
“Mengapa kamu
selalu menghabiskan waktumu bersama barang rongsokan itu, bukankah lebih baik
untukmu untuk belajar lebih keras supaya kelak kamu bisa menjadi dokter seperti
ibumu dulu!“ bentak ayah Reva padanya. Ayah Reva sangat membenci biola karena
ibu Reva meninggal saat pergi membelikan biola untuk Reva.
“Benda itu
punya nama, Yah. Benda itu pula yang membuatku tetap merasa hidup. Dan satu
lagi, Ibu sudah meninggal dan aku tidak bisa menjadi dirinya. Aku punya jalan
sendiri,“ kata-kata tersebut muncul begitu saja dari bibir Reva.
“Terserah,
Ayah tidak mau lagi mendengarmu memainkan benda itu. “
Tanpa
mengucap sepatah kata pun Reva langsung berlari menuju kamarnya dengan air mata
yang mengalir di kedua pipinya.
Setelah itu
Reva berangkat ke sekolahnya. Dengan perasaan sedih dia melangkahkan kakinya
menyusuri jalan kecil dengan pohon-pohon yang berjajar di kanan kirinya itu.
Saat Reva berjalan sendiri tiba–tiba seorang pria menghampirinya.
“Selamat pagi
Nona manis, bagaimana kabarmu hari ini?” sapa pria tampan yang bernama Andi
itu. Andi adalah kekasih Reva yang selalu mendampingi Reva di saat senang
maupun sedih. Namun ayah Reva tidak menyetujui hubungan mereka karena Andi
adalah anak yatim piatu.
Mendengar
perkataan kekasihnya Reva tidak mengucap sepatah kata pun. Namun air matalah
yang keluar menyambut sapaan kekasihnya itu yang membuat Andi merasa
kebingungan.
“Apa yang
telah terjadi padamu Reva?“ tanya Andi cemas.
“Aku tidak
kuat Andi, aku tak sanggup menjalani semua ini,“ ucap Reva.
“Tenanglah
Reva, aku akan selalu ada untukmu. Kau bisa menceritakan semuanya kepadaku,“
kata Andi lembut.
Reva
menceritakan semua yang dialaminya pada Andi. Andilah yang selama ini selalu
ada dan mencintai Reva dengan tulus. Dia juga selalu mendukung kekasihnya itu
dengan sepenuh hatinya. Tidak lama kemudian Andi berhasil menenangkan hati Reva
dan mereka berdua melanjutkan perjalanan ke sekolah berdua.
Waktu pun
berlalu dengan cepat. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Andi mengantar Reva
pulang ke rumahnya. Mereka berjalan berdua di bawah terik matahari. Tanpa
mereka sadari mereka telah sampai di depan rumah Reva.
“Sudah sampai
ya? Ya sudah aku pulang dulu,” ucap
Andi.
“Kamu tidak
mampir dulu?” tanya Reva pada Andi.
“Gak ah! Aku
langsung pulang aja,” jawab Andi.
Andi pun
pulang ke rumahnya. Sementara Reva masuk ke dalam rumahnya, di dalam rumah Reva
terkejut karena ia melihat ayahnya sudah berada di dalam rumah. Tidak biasanya
pada jam seperti ini ayah Reva sudah pulang dari kantornya.
“A….Ayah?
Ayah kok sudah pulang, inikan baru jam 3?” tanya Reva dengan perasaan takut.
“Kenapa, kamu
takut Ayah melihatmu bersama pemuda miskin tanpa masa depan itu? Sudah berapa
kali Ayah bilang kepadamu untuk menjauhinya!?” bentak ayah Reva dengan keras.
“Kenapa Ayah
selalu memandang semua hal dari harta, Andi tulus mencintai Reva. Walaupun dia
miskin namun dia selalu menjaga Reva,” jawab Reva.
Karena merasa
sangat terpukul Reva langsung berlari menuju kamarnya. Di dalam kamar dia
menangis memikirikan kepedihan pada dirinya. Setelah beberapa menit Reva
menangis, Reva menghubungi Andi dan mengajaknya bertemu.
“Halo, Andi?”
Reva berbicara di telepon sambil meneteskan air matanya.
“Iya, ada apa
Reva?” jawab Andi penuh kebingungan mendengar suara Reva yang parau.
“Temui aku
sore ini di taman. Aku sangat memerlukanmu,” kata Reva dengan lembut dan
singkat.
“Baiklah
Reva, aku pasti akan datang,” ucap Andi.
Tanpa
mengucapkan kata-kata Reva langsung menutup teleponnya. Sementara Andi hanya
bisa menunggu. Andi tidak mungkin menemui Reva di rumahnya karena ayah Reva
sangat membencinya dan Reva pasti ikut terkena imbasnya.
Sore yang
ditunggu akhirnya tiba. Tampak di sebuah kursi kayu tua Reva duduk sendiri menunggu
kedatangan Andi. Di tangannya dipegangnya sebuah biola yang siap mengalunkan
sebuah lagu. Satu jam sudah Reva menunggu kekasihnya namun Andi belum juga
tiba. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Andi tetapi tidak ada jawaban.
“Andi kamu
dimana?” tanya Reva. “Apa yang terjadi sama kamu?” lanjutnya.
Dengan sabar
Reva masih menunggu Andi. Tidak lama kemudian titik-titik air mulai menetes di
atas kepala Reva. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya membasahi seluruh tubuh
Reva.
“Aku akan
menunggumu di sini Andi, dan aku gak akan memainkan biola ini sebelum kamu
datang menemui aku!” teriak Reva di tengah hujan.
Hingga malam
tiba Reva masih menunggu Andi. Dingin mulai menusuk tubuh kecil Reva yang
tengah mengigil itu, hingga akhirnya tubuh Reva tak mampu lagi bertahan.
Pandangannya menjadi gelap dan akhirnya Reva jatuh terbaring di atas tanah.
Perlahan-lahan
Reva membuka matanya, sedikit demi sedikit pandangan Reva menjadi jelas.
Dilihatnya di sekitarnya teman-temannya berdiri dengan tatapan cemas dan di
sebuah pojok ruangan berdiri ayah Reva.
“Di mana aku?
Dan di mana Andi, kok aku gak melihat dia?” ucap Reva perlahan. Namun bukannya
menjawab teman-teman Reva hanya diam membisu dengan menampakkan raut kesedihan
di wajah mereka.
“Kamu di
rumah sakit, kemarin kami menemukanmu pingsan di taman,” kata salah seorang
teman Reva.
“Tapi dimana
Andi, kenapa ia tidak datang? Padahal dia sudah berjanji akan datang menemui
aku.”
Mendengar
perkataan Reva suasana ruangan itu menjadi sunyi. Karena tidak ada jawaban Reva
terus mendesak hingga akhirnya salah seorang dari mereka menjawabnya.
“Begini Reva,
kemarin Andi mengalami kecelakaan dalam sebuah perjalanan. Dokter sudah
berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkannya tetapi itu semua sia-sia.”
Mendengar penjelasan dari temannya itu tubuh Reva menjadi lemas.
“Gak, gak
mungkin. Kalian semua bohong. Andi sudah berjanji padaku bahwa dia akan selalu
ada bersamaku dan gak akan pernah meninggalkan aku!” teriak Reva dengan penuh
kemarahan.
Tiba-tiba
Reva bangun dari tempat tidurnya dan mencoba berlari untuk menemui Andi. Namun
belum sempat keluar dari kamar rumah sakit Reva terjatuh. Segera teman-teman
dan ayah Reva datang untuk membantunya dan menenangkannya.
“Kenapa,
kenapa ini semua harus terjadi padaku? Ini semua salahku. Andai hari itu aku
tidak mengajak Andi untuk bertemu aku, pasti semua ini gak akan terjadi.” Reva
menangis dan terduduk di lantai rumah sakit yang dingin itu.
“Sudahlah
Nak, ini semua bukan salahmu. Ikhlaskan saja dia pergi, masih ada banyak cinta
untukmu,” kata ayah Reva seraya mengelus rambut Reva.
“Ayah senang
kan dengan semua ini? Pasti dalam hati Ayah sedang tertawa terbahak-bahak,”
kata Reva kepada ayahnya. Revapun kembali bangkit dan mencoba untuk keluar dari
kamar rumah sakit itu. Akan tetapi sekali lagi Reva terjatuh dan teman-teman
Reva kembali menolongnya, namun kali ini ayah Reva hanya diam saja melihat
anaknya itu tanpa bisa berbuat apa-apa.
Satu hari
telah berlalu, namun kesedihan masih tampak pada wajah Reva. Kenangan manisnya
bersama Andi selama ini tidak bisa ia hapus dengan mudah. Setiap hari yang ia
lakukan hanya menangis sambil memandang foto Andi. Karena teman-temannya merasa
kasihan akhirnya mereka mengantar Reva ke tempat dimana Andi dimakamkan.
Sesampainya
di tempat pemakaman pandangan Reva langsung tertuju pada sebuah makam yang
bertuliskan Andi. Reva pun lalu duduk di samping makam Andi sambil menangis
mengenang seorang yang selama ini selalu mendampinginya. Setelah beberapa saat
teman-teman Reva mengajak Reva untuk pulang ke rumah. Kali ini Reva hanya
menurut permintaan teman-temannya itu. Sebulan telah berlalu. Bukannya semakin
membaik kondisi Reva justru bertambah buruk. Sekarang Reva menjadi seorang
gadis pendiam. Yang ia lakukan hanya mengurung diri di kamarnya. Begitu banyak
temannya yang mencoba menghiburnya namun tidak ada yang berhasil. Penyesalan
itu selalu datang menghantuinya.
Prestasinya
di sekolahpun semakin memburuk. Bahkan yang lebih parah Reva menjadi sangat
benci dengan biola yang selama ini sudah ia anggap seperti temannya karena ia
berpikir bahwa biola tersebut juga ikut menyebabkan Andi meninggal. Melihat
keadaan anaknya yang seperti itu ayah Reva memutuskan untuk mengirim Reva
sekolah di Bali.
“Reva, Ayah
mau berbicara denganmu dan kali ini Ayah harap kamu akan menuruti semua
perkataan Ayah,” perintahnya kepada Reva.
“Demi masa
depan kamu Ayah memutuskan untuk menyekolahkanmu di Bali,” kata ayah Reva
tegas.
“Apa Ayah
sadar berbicara seperti itu? Aku gak mungkin meninggalkan Andi sendirian di
sana. Aku akan selalu menjaganya,” balas Reva dengan penuh keyakinan.
“Kali ini
kamu tidak bisa menolak permintaan Ayah. Semua ini Ayah lakukan demi kebaikanmu
juga. Kamu tidak mungkin selamanya hidup dalam kesedihanmu sendiri,” bentak
ayah Reva yang kembali. Namun kali ini Reva tidak menjawab perkataan ayahnya
itu.
Akhirnya Reva
bersiap berangkat ke Bali dengan perasaan sedih. Reva masih belum siap untuk
meninggalkan semua kenangannya bersama Andi walaupun sepenuhnya ia sadar bahwa
Andi memang sudah meninggal.
Akhirnya Reva
tiba di Bali dengan selamat. Di Bali Reva bersekolah di sebuah sekolah
internasional dan tinggal di asrama sekolah itu. Walaupun sudah berada di
tempat yang baru, namun Reva belum juga dapat melupakan Andi.
Di suatu sore
Reva pergi jalan-jalan untuk menghilangkan kesedihannya. Reva hanya berjalan
sendirian karena belum mendapat teman di sekolah barunya. Di tengah
perjalanannya Reva melewati sebuah jembatan dan tiba-tiba dia berpikir untuk
bunuh diri dengan cara melompat dari atas jembatan. Reva pun naik ke atas
jembatan itu, beberapa saat kemudian dia bersiap untuk melompat dari jembatan.
Tetapi tubuh Reva ditarik oleh seorang gadis dan dia jatuh kembali ke atas
tanah.
“Kamu sudah
gila ya?” kata gadis itu dengan penuh ketakutan. “Kamu kan bisa mati, apa
kehidupan ini sudah begitu buruknya untukmu?” lanjut gadis cantik itu.
“Sudahlah,
masih banyak yang bisa kamu lakukan di dunia ini. Tanpa kamu sadari
sesungguhnya masih banyak orang yang menyayangi dan membutuhkanmu,” ucap gadis
itu sambil mencoba membangunkan Reva.
“Lepaskan
aku, aku hanya ingin mati. Apa kau tahu penderitaan yang aku alami, apa kau
merasakan rasa yang kini ada di hatiku? Kau tidak tahu apa-apa,” bentak Reva
sambil mengibaskan tangan gadis itu dari bahunya.
“Plaaak!”
Gadis itu
menampar Reva hingga membuat Reva terdiam.
“Aku memang
tidak tahu apa yang sedang kau rasakan dan apa yang telah kau alami. Namun satu
hal yang pasti kematian itu tidak akan menyelesaikan semua masalah yang sedang
kau hadapi.”
Mendengar
perkataan gadis itu pandangan Reva yang tadinya tajam kini telah berubah
menjadi sayu. Setelah itu keduanya berkenalan. Gadis itu ternyata bernama
Gladis. Seorang gadis Bali yang kebetulan adalah teman satu sekolah Reva.
Setelah berhasil menenangkan Reva, Gladis mengajak Reva untuk kembali ke asrama
sekolah mereka. Dan semenjak saat itu keduanya menjadi sahabat.
Suatu hari
Gladis mengajak Reva pergi berjalan-jalan. Reva menurut saja ajakan Gladis itu.
Setelah beberapa saat mereka berjalan sampailah keduanya di sebuah toko musik.
“Selamat
datang di sini Reva, setelah mendengar semua ceritamu aku rasa ini tempat yang
sangat cocok untukmu,” kata Gladis dengan senyum lebar terukir di wajahnya.
“Apa maksudmu
Gladis?” jawab Reva dengan penuh keheranan.
“Di sini kamu
bisa memainkan biola dan mengekspresikan perasaanmu,” balas Gladis sambil
menyodorkan sebuah biola kepada Reva.
Mendengar
perkataan Gladis, Reva kembali teringat akan masa lalunya. Namun kali ini Reva
tidak menangis seperti biasanya. Kini Reva sudah menjadi lebih kuat berkat
dukungan Gladis.
“Gak ah, aku
tidak mau.” Hanya kata itu yang terucap dari bibir kecilnya.
“Lho kenapa?
bukankah kamu sangat senang bermain biola?” tampak Gladis meyakinkan Reva.
Bukannya
menjawab Reva keluar begitu saja dari toko musik itu. Melihat kejadian itu
Gladis merasa tidak enak, maka dengan segera ia menyusul Reva. Setelah berhasil
menyusul langkah Reva, Gladis mengajaknya pulang ke asrama. Sesampainya di
asrama Gladis mengantar Reva ke dalam kamarnya.
“Va, maafin
aku ya! bukan maksud aku membuatmu sedih,” kata Gladis pelan.
“Gak apa-apa
kok, aku gak sedih hanya saja aku sudah berjanji gak akan memainkan biola lagi,
aku takut Andi akan marah padaku,” balas Reva.
“Aku yakin
Andi gak akan marah. Dia pasti menginginkan yang terbaik bagimu dan dia juga
pasti akan senang melihatmu memainkan biola itu lagi,” ucap Gladis sambil
memegang kedua tangan Reva.
Setelah
beberapa saat mereka berbicara akhirnya Gladis memutuskan untuk kembali ke
kamarnya. Karena tidak ingin merasakan kesedihan kembali maka Reva memutuskan
untuk tidur.
Pada suatu
pagi, Reva berjalan sendirian di tengah-tengah padang rumput yang masih basah
oleh tetes-tetes embun. Sementara dingin kabut masih menyelimuti tubuhnya yang
kecil itu. Di tengan kesendiriannya itu dilihatnya sesosok laki-laki berdiri
dengan memakai pakaian putih yang tidak asing lagi baginya. Laki-laki itu
adalah Andi.
“Gak mungkin,
ini gak mungkin terjadi,” pikirnya dalam hati.
Tiba-tiba
laki-laki itu membalikkan badannya dan benar apa yang dipikirkan Reva. Andi
kini berdiri tepat dihadapannya. Reva yang hanya bisa diam tidak percaya akan
semua yang dialaminya itu. Tanpa mengucap sepatah kata pun Andi menyodorkan
sebuah biola kepada Reva.
“Yang terbaik
bagimu takkan kubiarkan begitu saja pergi meninggalkanmu,” ucap Andi sambil
tersenyum kecil kepada Reva.
Setelah
memberikan biola tersebut Andi langsung pergi begitu saja tanpa sepatah
katapun. Reva ingin mengejarnya namun apa daya langkah Andi terasa sangat cepat
dan Reva seolah-olah hanya berlari di tempat. Karena merasa tidak berdaya
akhirnya Reva berteriak sekeras-kerasnya.
“Andiiiii,
tunggu…., Andiiiiiii….!” Reva terus beteriak memanggil nama Andi hingga sebuah
suara datang menghampirinya.
“Reva bangun,
bangun.” Ternyata suara itu adalah Gladis yang sedang membangunkan Reva dari
tidurnya. “Va ada apa? “ ucap Gladis.
“Andi Dis,
tadi aku bertemu Andi!” katanya dengan semangat. “Dia bahkan memberikan
kepadaku sebuah biola!” lanjutnya.
Seolah tidak
percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Reva, Gladis diam sejenak tanpa
memberikan komentar apapun kepada Reva. Lalu Gladis tiba-tiba keluar dari kamar
Reva dan tidak lama kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah biola di
tangannya. Reva yang melihat hal tersebut langsung mengerutkan dahi. Ternyata biola
yang dibawa Gladis tersebut adalah biola yang diberikan Andi kepada Reva di
dalam mimpinya.
“Kalau memang
benar ini adalah biola yang kamu maksud, aku yakin Andi pasti ingin kamu
kembali memainkan biola ini seperti dahulu kembali,” jawab Gladis.
Semenjak
kejadian tersebut kini kehidupan Reva kembali seperti dulu. Reva kembali
menjelma menjadi seorang gadis periang yang selalu menebarkan kebahagiaan untuk
orang-orang di sekitarnya. Dan yang terpenting yaitu kini Reva kembali
menyayangi biola yang telah lama ia tinggalkan itu. Dan pada suatu sore Reva
mengajak Gladis pergi ke teman yang ada di dekat asrama mereka.
“Dulu Andi
aku ajak bertemu di sebuah taman untuk mendengarkan alunan biolaku, dan
sekarang aku akan mewujudkan semua itu,” ucap Reva dengan semangat.
“Baiklah aku
akan siap mendengarkan alunan indah biolamu,” kata Gladis yang sudah duduk di
atas hijaunya rumput taman itu.
Reva pun
memainkan biolanya dengan sangat indah. Orang-orang yang melewati taman itu
langsung terhenti dan melihatnya. Mereka semua tercengang mendengar nada-nada
yang keluar dari gesekan dawai biola tersebut. Namun di tengah-tengah keindahan
suasana tersebut tiba-tiba Reva jatuh pingsan. Orang-orang yang melihat
kejadian tersebut langsung mengerumuni Reva, tidak terkecuali Gladis.
“Va, ada apa
denganmu? Seseorang tolong panggilkan ambulan!” teriak Gladis di tengah-tengah
kerumunan orang-orang.
Akhirnya Reva
dibawa ke rumah sakit, setelah dokter memeriksanya ternyata Reva mengidap
kanker otak dan usia Reva tidak panjang lagi. Mendengar hal tersebut keduanya
bagai disambar petir. Gladis hanya bisa memeluk Reva yang terdiam seolah tidak
percaya akan apa yang telah didengarnya.
“Dis, aku
harap kamu tidak mengatakan semua ini kepada siapapun juga, bahkan kepada
ayahku,” ucap Reva pelan.
“Tapi, Ayahmu
harus tahu semua ini Va!” balas Gladis sambil menangis.
“Please Dis,
berjanjilah padaku. Kali ini saja kumohon!”
Akhirnya
Gladis hanya bisa mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Walaupun sebenarnya
Gladis merasa kasihan kepada Reva.
Hari-hari
berlalu, kondisi Reva menjadi semakin parah. Ia sering pingsan dan mengalami
rasa sakit yang luar biasa. Karena merasa kasihan akhirnya Gladis memutuskan
untuk pergi menemui ayah Reva dan menceritakan apa yang telah terjadi.
“Selamat
siang, apa benar ini rumah Bapak Hendrawan?” tanya Gladis pada ayah Reva.
“Iya saya
sendiri, silakan masuk.” Ayah Reva mempersilahkan Gladis untuk masuk ke dalam
rumahnya.
Setelah
memasuki rumah dan memperkenalkan dirinya, Gladis pun menceritakan semuanya
pada ayah Reva. Tentu saja ayah Reva tidak begitu saja percaya akan perkataan
gadis yang baru dikenalnya itu. Namun setelah beberapa kali mencoba akhirnya
ayah Reva percaya juga.
“Tapi kenapa
Reva tidak pernah memberitahuku? Apa dia sudah tidak menganggapku lagi sebagai
ayahnya, Apakah dia sudah tidak menyayangiku lagi?”
“Justru
sebaliknya, Reva sangat menyayangi Anda dan sangat menghormati Anda. Sebelumnya
maaf kalau saya ikut campur namun saya rasa Andalah yang terlalu memaksakan
keinginan Anda kepada Reva,” kata Gladis kepada ayah Reva.
Setelah
keduanya berbicara panjang lebar akhirnya mereka memutuskan untuk segera
kembali ke Bali. Mereka berdua langsung berangkat karena segera ingin bertemu
dengan Reva. Sesampainya di Bali keduanya langsung mendatangi asrama Reva dan
menuju kamarnya. Namun di dalam kamarnya ternyata Reva tidak ada, keduanya
langsung berlari keluar kamar tersebut dan mencari Reva di seluruh penjuru
sekolah asrama itu dan meneruskan pencariannya di luar asrama. Berjam-jam
mereka mencari dan tidak membuahkan hasil hingga mereka melihat sekelompok
orang berdiri di sebuah pantai sedang mengerumuni seorang gadis yang sedang
bermain biola.
“Itu pasti
Reva, aku yakin itu!” kata Gladis pada ayah Reva sambil menunjuk keramaian itu.
“Benar, itu
Reva ayo kita segara menuju ke sana!” ajak ayah Reva.
Mereka berdua
segera berlari menuju keramaian tersebut, dilihatnya orang-orang yang terdiam
memandang Reva yang sedang memainkan biolanya. Dari wajah mereka terpancar
kesedihan yang sangat mendalam. Karena terbawa oleh suasanya yang seperti itu
ayah Reva menitihkan air matanya. Setelah selesai memainkan biolanya tiba-tiba
Reva jatuh di atas pasir yang putih. Melihat hal tersebut ayah Reva langsung
berlari mendatangi anaknya.
“Yah, maafkan
Reva. Reva tidak bisa menjadi apa yang Ayah harapkan,” ucap Reva yang bersandar
di pangkuan ayahnya.
“Kamu tidak
perlu meminta maaf, Ayahlah yang salah terlalu memaksakan kehendak Ayah,” kata
Ayah Reva dengan air mata masih mengaliri pipinya.
“Yah, Ayah
mau menggendong Reva? Reva ingin berjalan-jalan di pantai ini Yah!” pinta Reva
pada Ayahnya.
Tanpa
menunggu lagi ayah Reva langsung menggendong Reva di punggungnya diajaknya
anaknya itu jalan-jalan menyusuri pantai dengan diiringi matahari yang sudah
hampir tenggelam ditelan cakrawala. Sementara Gladis hanya mengikuti keduanya
dari belakang.
“Dulu ketika
Ibumu masih hidup dia sangat senang bermain di pantai bersamamu, apakah kamu
masih ingat saat kita bertamasya bersama dan kamu sembunyi sehingga membuat
kami semua kebingungan?” tanya ayah Reva.
Tidak ada
jawaban yang terucap dari Reva. Dia hanya diam dan membisu. Ayah Reva baru
menyadari kalau anaknya sudah meninggal. Namun dengan langkah berat dia tetap
menggendong Reva sambil menceritakan kenangan masa kecil Reva yang penuh
keceriaan sambil meneteskan air matanya pada butiran pasir yang terhampar.
Gladis juga menyadari kejadian itu dan hanya menangis di belakang keduanya.
Kini gadis itu telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan sejuta kenangan
untuk orang-orang di sekitarnya. Akhirnya Reva dimakamkan di sebelah makam
Andi. Di atas makam itu diletakkan biola kesayangan Reva. Dan kini cinta antara
Reva, Andi dan biolanya kembali menyatu.
Unsur – unsur interistik cerpen
a.
Tema : Percintaan
b.
Alur
a. Tahap Perkenalan : Pagi kembali menyambut , saat mentari masih
bersembunyi malu di balik bukit tampak seorang gadis
berambut panjang duduk di atas hijaunya padang rumput.
Nama gadis itu adalah Reva , seorang gadis dengan seribu
pesona yang ada padanya. Selain cantik Reva memiliki
prestasi yang sangat membanggakan disekolahnya. Dan
satu hal lagi , Reva mempunyai suatu kegemaran yaitu
memainkan biola
a. Tahap Perkenalan : Pagi kembali menyambut , saat mentari masih
bersembunyi malu di balik bukit tampak seorang gadis
berambut panjang duduk di atas hijaunya padang rumput.
Nama gadis itu adalah Reva , seorang gadis dengan seribu
pesona yang ada padanya. Selain cantik Reva memiliki
prestasi yang sangat membanggakan disekolahnya. Dan
satu hal lagi , Reva mempunyai suatu kegemaran yaitu
memainkan biola
b.Tahap Pertentangan : “Mengapa
kamu selalu menghabiskan waktumu bersama
barang ronsokan itu , bukankah lebih untukmu untuk
belajar lebih keras supaya kelak kamu bisa jadi dokter
seperti ibumu dulu!“ bentak ayah Reva padanya. Ayah
Reva sangat membenci biola karena ibu Reva meninggal
saat pergi membelikan biola untuk Reva dan Ayah Reva
tidak menyetujui hubungan Reva dengan Andi karena
Andi seorang anak yatim piatu dan di anggap sebagai
pemuda miskin tanpa masa depan
c. Tahap Penyelesaian : “Yah, maafkan Reva. Reva tidak bisa menjadi apa yang Ayah
harapkan,” ucap Reva yang bersandar di pangkuan
Ayahnya. “Kamu tidak perlu meminta maaf, Ayahlah yang
salah terlalu memaksakan kehendak Ayah , “ kata Ayah
Reva dengan air mata masih mengaliri pipinya. Kini
gadis itu telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan
sejuta kenangan untuk orang- orang di sekitarnya.
Akhirnya Reva dimakamkan di sebelah makam Andi . Di
atas makam itu di letakkan biola kesayangan Reva. Dan
barang ronsokan itu , bukankah lebih untukmu untuk
belajar lebih keras supaya kelak kamu bisa jadi dokter
seperti ibumu dulu!“ bentak ayah Reva padanya. Ayah
Reva sangat membenci biola karena ibu Reva meninggal
saat pergi membelikan biola untuk Reva dan Ayah Reva
tidak menyetujui hubungan Reva dengan Andi karena
Andi seorang anak yatim piatu dan di anggap sebagai
pemuda miskin tanpa masa depan
c. Tahap Penyelesaian : “Yah, maafkan Reva. Reva tidak bisa menjadi apa yang Ayah
harapkan,” ucap Reva yang bersandar di pangkuan
Ayahnya. “Kamu tidak perlu meminta maaf, Ayahlah yang
salah terlalu memaksakan kehendak Ayah , “ kata Ayah
Reva dengan air mata masih mengaliri pipinya. Kini
gadis itu telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan
sejuta kenangan untuk orang- orang di sekitarnya.
Akhirnya Reva dimakamkan di sebelah makam Andi . Di
atas makam itu di letakkan biola kesayangan Reva. Dan
kini cinta antara Reva , Andi dan biolanya kembali menyatu
Alur
pengembangan :
Penokohan :
- Reva : baik
- Ayah Reva (Bapak Hendrawan) : tegas
- Andi : baik , perhatian
- Gladis : baik , perhatian
- Reva : baik
- Ayah Reva (Bapak Hendrawan) : tegas
- Andi : baik , perhatian
- Gladis : baik , perhatian
c.
Latar :
- Latar Waktu :
- Latar Tempat : Padang Rumput , Rumah Reva , Kamar Reva , Disekolah , Taman ,
Rumah Sakit , Tempat Pemakaman , Asrama , Jembatan , dan
Pantai
d.
Amanat : kita tidak boleh
memaksakan kehendak kepada orang lain
dan kita
juga tidak boleh memandang seseorang dari harta , seharusnya kita
melihat dari ketulusan hatinya.
juga tidak boleh memandang seseorang dari harta , seharusnya kita
melihat dari ketulusan hatinya.
e.
Sudut Pandang : Pengarang
menggunakan sudut pandang diluar cerita / serba
tahu.
tahu.
0 komentar:
Posting Komentar