Pages

Senin, 19 November 2018

Wanita dan Egonya

Februari 2015

Sebenarnya kala itu aku merahasiakan kepulanganku seperti biasanya. Namun aku sendiri terlanjur sudah berjanji untuk menemui kamu.

Aku bukannya ingin membuatmu spesial. Tapi kamu sendiri pasti tahu, janji harus ditepati kan?
Walaupun, saat kita berjumpa. Kita canggung. Tak seperti dulu lagi.
Dan pada akhirnya kamu mengajak teman yang lain. Habislah aku ...

Seketika aku jadi teringat awal perkenalan kita. Cukup unik sih hehe

Waktu itu kita berada dikelas yang sama. Kelas IPA 1.
Aku masih cenderung diam kala itu. Rasanya sulit beradaptasi dengan orang-orang hebat pikirku.

Kita duduk bersebelahan, bukan dalam artian dekat ya. Duduk berdua-berdua pokoknya.

Kamu datang nyamperin aku.
Kamu ngajak ngenalan.
Lalu kamu bertanya padaku "kok diem amat sih?"
Aku cuman mampu menjawab "hehe gapapa"

Tak sampai disitu ternyata.
Semenjak kita berkenalan, kamu sering ngejailin aku. Suka minta nyontek tugas, banyak mau pokoknya. Ngeselin sih, tapi gapapa. Jika diingat lagi, kalau bukan karena itu, kayaknya kita ga akan dekat. Dulu.

Kebiasaan itu jadi sempat memicu aku ada rasa padamu. Aku terlalu nyaman dengan segala ocehan dan tingkahmu. Semuanya sesederhana itu. Namun lagi-lagi rasaku itu tak berbuah manis.

Aku baru tahu, ternyata dirimu sedang dalam proses mengejar wanita semasa putih-birumu. Aku kalah kesekian kalinya. Aku mundur.

Tapi semua tak berakhir sesimpel itu. Gerak-gerik ku terbaca oleh sahabatku, yang juga sahabatmu. Mungkin karena aku terlalu menunjukkan ya. Entahlah.

Aku akhirnya mengakui pada sahabatku. Tentang rasaku itu padamu.
Hm.. Aku lupa dia wanita.
Taulah gimana wanita.
Dia jadi bercerita dan bertanya padamu, bagaimana hubungan kita?

Setelah itu kamu menjauh. Sangat amat jelas terlihat. Kita menjadi dua orang asing.
Kamu menghindari aku.
Kamu tak lagi bisa bersenda gurau denganku. Benar-benar menjaga jarak denganku.

Tak apa pikirku, mungkin memang harusnya kita begitu. Walau aku merasa, setiap hari ada yang hilang tanpamu.

Waktu terus berlalu, hingga orang-orang sekitar pun bertanya "ada apa aku denganmu? Tak seperti biasanya"
Hingga kamu pun menyerah dan meluruskan. Kita tak seharusnya berdiam seperti ini. Karena teman akan selamanya jadi teman. Tidak akan pernah jadi lebih. Itu statement mu.
Miris memang, tapi yasudahlah.
Kita berakhir baikan.

Aku lupa tepatnya kapan, tapi seingetku hari itu hari libur sekolah.
Kita pernah berkirim pesan.
Kamu bertanya " lagi apa?"
Aku jawab dengan bercanda "lagi memikirkan mu hahah"

Malu seketika. Entah kamu atau temanmu yang screenshot percakapan itu. Aku jadi di-bully karna itu.

Lambat laun, aku dengar dirimu akhirnya berhasil menaklukkan wanitamu.
Aku jadi penasaran seperti apa paras wanita itu.
Dan ternyata memang amat manis. Pantas saja dirimu rela menunggu dia putus dari pacarnya.

Beberapa bulan setelahnya....

Semua tak berlangsung lama.
Awalnya memang dirimu sudah diperingati oleh teman dekatmu.
Bisa dibilang, kamu hanya jadi pelarian.
Aku ingin tertawa tapi kasian juga denganmu 😅

Hingga tibalah saat kita berpisah.
Aku yang lulus SNMPTN. Kamu masih berjuang.
Kalau tidak salah kamu lulus jalur mandiri akhirnya.
Aku tak pernah henti memberi semangat padamu kala itu.

Kamu inget ga?
percakapan kita menjelang pengumuman kelulusan mu. Begini

R: gimana pengumuman? Lulus ga?
Y: belum nih, nanti sore. Doain ya
R: iya pasti lulus kamu kok. Ngambil jurusan apa emang?
Y: ilmu hukum
R: wih keren ya, ntar pengumuman bakal tertulis selamat blabla dinyatakan lulus di ilmu hukum
Y: Aamiin
*Saat pengumuman*
Y: nan tolong liatin pengumuman dong
R: mana sini nomor tes nya
Y: blablabla , ini nomor tes temenku dulu deh
R: ga lulus
Y: yah nan, aku gimana ya
R: udah sih, siniin nomor tesnya
Y: blabla
R: *kukirim screenshot* tuh aku bilang apa lulus juga
Y: serius? Alhamdulillah
R: iya, kan tadi aku bilang bakal lulus kamu disitu

Aku akhirnya pamit.
Kita jadi sibuk mengejar masa depan masing-masing.
Namun kita masih sering komunikasi.
Aku, kamu, B, Alm A, I, A.
Kita sering telponan sampai nyambungin beberapa orang hingga tak mengenal waktu.
Itu semasa aku di asrama.

Seiring jalannya waktu.
Semua tak lagi sama.
Komunikasi itu memudar, walau pada akhirnya kita semua selalu berjumpa saat kepulanganku.

Aku cemburu, saat melihat foto kalian berkumpul.
Aku merasa asing ditengah-tengah kalian sekarang.
Mungkin, karna hanya aku saja yang jarang pulang ya.

Btw
Ada satu hal lagi yang aku ingat tentangmu. Kamu pernah berkata, entah itu pertanyaan atau pernyataan
"Ilmu hukum cocok sama biologi"

Tak tau~
Ku tak tau~
Rasa-rasanya tidak sih~
Oke cukup

Sedikit pesan yang ingin kusampaikan tapi sulit kuutarakan langsung untuk kalian yang menemani masa-masa adaptasi ku selama di asrama. Semoga saja suatu saat kalian nemuin postingan ini ya hehe...

Teruntuk Y
yang beberapa minggu lalu sudah melewati sidang. Selamat sudah meraih gelar sarjana hukumnya. Jangan kebanyakan ngeluh lagi ya

Teruntuk B
Selamat bertugas my bebi, jangan keseringan live di ig. Kamu makin ganteng sih 😂😂😂. Nanti saat kita berjumpa jangan lupa foto keliatan gigi dan ga keliatan gigi ya

Teruntuk Alm A
Maaf yang sebesar-besarnya.
Aku gagal jadi teman yang baik untukmu. Aku tidak datang menemuimu di saat-saat terakhir karna tidak di Bogor saat itu.

Rasanya baru beberapa saat sebelum kejadian itu. Kamu bertanya alamatku di Bogor. Katanya kamu mau menemui ku saat libur.

Aku masih tidak percaya itu obrolan terakhir kita.
Semoga kamu tenang disana
Allah lebih sayang sama kamu💙

Terima kasih sudah menjadi sosok kakak yang selalu mendengar curhatan ku, selalu memberi semangat saat aku homesick

Teruntuk I
Semangat bekerja polwan kesayanganku, jangan sering homesick kayak aku. Semoga hubungan dengan doi nya langgeng. Cepetan kasih undangan nikah sih ke aku 😌

Teruntuk A
Selamat sayang atas gelar sarjana pendidikannya. Semoga segera menemukan pelabuhan hati ya

Dariku yang sangat amat terlalu merindukan kalian

Nan

0 komentar:

Posting Komentar